Tersebutlah sebuah desa yang sangat amat terpencil di dunia Tubby bernama Desa Kue. Desa tersebut dilalui oleh jalur pegunungan kue tart dan pohon cokelat. Pohon-pohon mint bergoyang tertiup angin beraroma susu. Matahari bayi tertawa tersendat-sendat seperti motor di angkasa.
Seorang anak laki-laki bertubuh lebih berlari seperti anak perempuan ke arah hutan Tubby. Ia tersenyum mengerikan menghadap ke arah hutan, sedangkan tangan kanannya menggenggam kamus seharga dua ribuannya. Ia menoleh memperhatikan sekelilingnya, dan membuka kamus.
“Po…hon… tri… Langit… skai… Matahari… san… Bayi… beibi…” gumam-nya sambil melambaikan tangannya menyapa matahari bayi. “Bahasa Inggris itu keren ya…” Ia tersenyum ngiler.
Kemudian ia berlari ala perempuan lagi, menuju rumah Teletubbies. Ia berharap bisa main seluncuran dari atap rumah-bukit mereka. Namun sayang, tak disangka Teletubbies pindah. Anak itu pun menunduk sedih.
Tetapi ia tak menyerah! Ia perlahan memanjat bukit tersebut untuk mencapai puncaknya. Rupanya keinginannya sangat kuat.
Berkali-kali ia jatuh akibat terpeleset rumput-rumput yang sedemi-kian rupa licin. Tetapi tekadnya sudah bulat. Panas maupun hujan sudah tak bisa menghalanginya lagi.
Setelah beberapa menit penuh perjuangan, akhirnya ia berhasil! Pertamanya ia bengong dan mematung sambil melihat lubang menganga di dekat kakinya. Kemudian ia berteriak kegirangan!!
“Saya berhasil!!” serunya sambil lompat-lompat. Tetapi sayang, ia jatuh… lagi…
Anak itu terus menerus memanjat. Dan setiap kali berhasil ia melompat-lompat sehingga ia jatuh lagi. Matahari bayi menatapnya melas.
Tiba-tiba saja muncullah seekor… seorang Teletubby bernama Muegh. Ia gendut dan brewokan. Rupanya ia adalah seorang makelar rumah Tubby. Pria itu pendek, sehingga jalannya lucu. Ia tersenyum ngiler, seperti yang dilakukan anak gendut tadi.
Muegh melihat anak kecil tadi yang terus menerus memanjat bukit Tubby. Ia berpikir, Wah, dia mau latihan panjat tebing ya… Aku harus tahu namanya… Siapa tahu dia mau mengambilkan boneka teddy bear-ku yang tersangkut di tebing Tubby. Setelah diam sejenak, ia pun mendekati anak itu.
Si anak menyadari kedatangan Muegh dan berhenti memanjat. Pertamanya mereka saling pandang. Tak lama kemudian mereka tersenyum ngiler dan mengangguk-angguk. Si anak tadi melompat-lompat, dan Muegh mengangguk-anggukan kepalanya seirama dengan tubuh si anak. Kemudian setelah si anak berhenti, Muegh bertepuk tangan.
Memang agak konyol, tetapi itulah realita.
Muegh kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. “Nama saia Muegh-Muegh-Uegh. Saia makelar rumah ini. Kamu?”
Si anak membalas jabatannya. “Saya… lapar…” Si anak menjawab.
Muegh merasa kasihan padanya. Ia pun menyerahkan kue lapis legit kepadanya. Si anak menatap kue tersebut, kemudian menganga.
Dalam hitungan detik si anak memakannya tanpa sisa. Si anak mengelap mulutnya dengan kamus dan berkata, “Lapar.” Muegh pun segera memberikan lapis legit lagi kepadanya.
Ternyata si anak masih lapar. Muegh pun memberi lagi, bahkan lebih banyak. Ia tidak khawatir. Pasti lapar setelah memanjat tebing. Memang, dia ini pemanjat profesional… pikir Muegh. Kemudian ia tersenyum sendiri. Teddy bear aku datang!! Biar mama gak marah, tunggu ya!!
Tinggallah satu lapis legit, dan kacaunya si anak masih lapar. Muegh pun memberikannya dengan senang hati, berharap si anak bisa langsung mengambilkan teddy bear-nya selesai makan. Ia pun mecoba mengajak berbicara.
“Jadi.. siapa namamu?” tanya Muegh penuh harap.
Si anak menoleh, dan mengangkat alis. Ia pun membuka-buka kamus. “Rasanya sangat legit.” jawab si anak gak nyambung.
Si Muegh malah tersenyum bangga. Dia sudah menyukai lapis legitnya! Berarti dia mau mengambilkan! “Tapi siapa namamu?”
“Rasanya terlalu legit.”
Begitulah! Setiap kali Muegh menanyakan namanya, si anak selalu menjawab “Rasanya legit.” Rupanya, karena ia sudah berulang kali membaca kamus, ia sudah lupa pada bahasanya sendiri. Maka ‘nama’ terdengar seperti ‘rasa’.
“Iya, iya. Kali ini SIAPA NAMAMU?” tanya Muegh sambil melotot.
Si anak pun juga marah dipelototi. Ah, kalau orang ini gak tahu bahasa Tubby, aku pake bahasa Inggris aja! Si anak pun mulai membuka kamusnya, mencari kata ‘terlalu’ dan ‘legit’ untuk bahasa Inggris
Hasilnya? ‘Terlalu’ adalah ‘too’ dalam bahasa Inggris. Sedang ‘legit’ tidak ada. Si anak beranggapan, bahwa jika tidak ada di kamus maka bahasa Inggrisnya juga sama. Ia pun berteriak “TOO LEGIT!!!”
“Apa?” tanya Muegh.
“TOO LEGIT!”
“Tulejit?” Muegh meragukannya karena si anak mengucapkan ‘Legit’ menjadi ‘Lejit’; khas Inggris dimana ‘g’ menjai ‘j’ dan huruf ‘t’ samar.
“TOO LEGIT!!”
“TULEJE! Indah sekali namanya!”
Tiba-tiba saja dari balik bukit terdengar lagu rap. Spontan, Tuleje langsung break-dancing dengan lincahnya. Muegh langsung ditariknya menjadi penari latarnya.
Dari balik bukit, Dipsy datang sambil membawa radio di punggungnya. Ternyata ia juga menari walau tak seekstrim Tuleje. Ia pun turun ke bukit dengan heran. “Lho? Siapa kalian? Kamu pasti si makelar rumah! Tapi dia…” Tanpa sadar Dipsy menikmati gerakan Tuleje.
Muegh menjawab, tetapi tak diperhatikan Dipsy. Beberapa saat kemudian ia sadar. “Siapa?”
“Tuleje, Tuan.”
Dipsy tersenyum senang. Kemudian menepuk punggung Tuleje yang masih bergoyang pinggul. “Tuleje, maukah kamu menjadi penari rap bersa-maku?” ajak Dipsy.
Muegh spontan kaget. Ia langsung komplain. “Tetapi, Sir, dia peman-jat tebingku!”
“Sekarang dia asistenku!” tukas Dipsy ketika Tuleje mengangguk-angguk mendengar irama lagu. Padahal Tuleje tidak berniat sama sekali menjawab! “Nah sekarang, kamu tinggal bersamaku sebagai Teletubby. Sekarang, antenamu mau seperti apa?”
Tuleje tidak memperhatikan. Ia mendengarkan lagu dengan senang. To the cafe! Cafe, cafe, cafe!
“Kape.. Kape… kape!” Tuleje menirukan walau tidak benar.
“KAPE!!!” Seru Dipsy senang. “Tetapi apa artinya?”
Tuleje tidak menjawab. Ia terus mengatakan “Kape”.
“Kotak persegi?” tebak Dipsy.
Tuleje mengangguk tanpa sadar… lagi.
“BAIKLAH! ANTENAMU BERBENTUK KOTAK!!!” seru Dipsy.
Tiba-tiba saja tumbuhlah antena berujung kotak di atas kepala Tuleje. Ia tersenyum.
“Tunggu dulu, mau dibawa kemana ia?!” seru Muegh. Ia tidak rela penyelamat bonekanya lari.
“Pulang. Aku tidak menjual rumahku.” Dipsy menjawab cuek.
“Akan kukejar sampai rumahmu!”
Tiba-tiba saja pipa-pipa bermunculan dari permukaan tanah dan berseru, “SAATNYA TELETUBBIES BERPISAH! SAATNYA TELETUBBIES BERPISAH!”
Muegh cuma melongo. “Tuh kan, saatnya aku pulang…” Dipsy meleng-gang pergi bersama Tuleje, masuk lewat seluncuran di atas bukit.
“Awas kau Tuleje…” hardik Muegh.
Siapa yang sangka? Orang tidak normal mendapat keberuntungan luar biasa, sedang orang (sedikit) normal justru sebaliknya. Keren, ya?!
Next episode: Latihan Dance dengan gangguan.